Discover / Temukan

Sabtu, 11 Februari 2012

Landmark


Diterbitkan: 27 September 2011
Perancang: Arcom
SHP Landmark ini terdiri dari 5 prangko yang masing-masing bernilai Rp 2.500. Desainnya menampilkan foto-foto: Jembatan Ampera di Palembang, Lawang Sewu di Semarang, Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali dan Benteng Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang di Makassar.

- Jembatan Ampera:
Terletak di kota Palembang, Sumatra Selatan. Jembatan ini membentang di atasi Sungai Musi sepanjang 1.117 m, tinggi menaranya 63 m dari permukaan tanah. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1965.

- Lawang Sewu:
Terletak di Bundaran Tugu Muda(dahulu Wilhelminaplein) di kota Semarang, Jawa Tengah. Awalnya merupakan kantor Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS Lawang Sewu arti harfiahnya adalah "pintu seribu" karena sedemikan banyak pintunya. Gedung ini dibangun mulai tahun 1904 sampai tahun 1907. Saat ini gedung ini dikelola oleh PT Kereta Api(Persero).

- Tugu Khatulistiwa:
Terletak di kota Pontianak ke arah kota Mempawah di Kalimantan Barat. Bangunan tugu ini terdiri dari 4 tonggak kayu belian(kayu besi) dan terdapat lingkaran di tengahnya dengan tulisan EVENAAR. Pada anak panah tertera 109o20' OLvGr yang menunjukkan letak berdirinya Tugu Khatulistiwa pada garis Bujur Timur. Pembangunannya dimulai tahun 1928.

- Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) :
Terletak di tanjung Nusa Dua di Kabupaten Badung kira-kira 40 km di selatan kota Denpasar, Bali. Di areal taman budaya ini direncanakan akan didirikan patung berukuran raksasa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi Garuda setinggi 12 meter.

- Benteng Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang(Jum Pandang) :
Terletak di pinggir pantai di sebelah barat kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo, dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke 9 yang bernama I manrigu Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallona. Awalnya benteng ini dari tanah liat lalu diganti dengan batu padas dari Maros oleh Raja Gowa ke 14 Sultan Alauddin. Benteng ini berbentuk seekor penyu yang hendak merangkak ke lautan. Ini sesuai dengan filosofi Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun lautan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...